Lebak – Pengurus Gerakan Aksi Moral Mahasiswa (GAMMA) Kabupaten Lebak resmi melayangkan surat audiensi kepada Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, menyusul dugaan ketidaksesuaian kualitas fisik Program Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) Tahun Anggaran 2025 yang bersumber dari APBN melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Langkah ini diambil setelah muncul laporan dan temuan masyarakat terkait dugaan perbedaan mencolok antara hasil pekerjaan di lapangan dengan nilai anggaran yang dikucurkan kepada kelompok tani pelaksana. Sejumlah titik pembangunan RJIT disebut-sebut menunjukkan kualitas konstruksi yang diragukan, sehingga memicu pertanyaan serius soal efektivitas dan pengawasan program tersebut.
Ketua GAMMA Kabupaten Lebak, Hasim, menegaskan bahwa RJIT bukan program kecil. Program ini merupakan agenda strategis nasional yang setiap tahun digulirkan pemerintah pusat melalui Direktorat Lahan dan Irigasi Kementerian Pertanian untuk menunjang produktivitas pertanian dan menjamin ketersediaan air bagi lahan petani.
“Kalau anggarannya bersumber dari APBN dan nilainya tidak sedikit, maka kualitasnya harus benar-benar terjamin. Jangan sampai fisik bangunan tidak sebanding dengan dana yang digelontorkan. Kami minta Dinas Pertanian turun langsung dan evaluasi total,” tegas Hasim pada Jurnalklik.com, Kamis 26 Fabuari 2026.
Menurut GAMMA, jika dugaan ketidaksesuaian tersebut benar, maka hal itu bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut akuntabilitas penggunaan uang negara. Program yang semestinya meningkatkan produktivitas pertanian justru berpotensi menjadi proyek formalitas tanpa dampak nyata bagi petani.
GAMMA mendesak Dinas Pertanian Kabupaten Lebak untuk membuka secara transparan seluruh dokumen perencanaan, RAB, hingga laporan realisasi fisik dan keuangan RJIT Tahun Anggaran 2025. Mereka juga meminta adanya pengecekan ulang terhadap volume pekerjaan, spesifikasi teknis, serta kesesuaian antara output dan anggaran.
“Jangan sampai program strategis ini hanya bagus di atas kertas. Petani butuh irigasi yang kuat dan berfungsi, bukan bangunan yang cepat rusak. Jika ada ketidaksesuaian, harus ada tanggung jawab,” tambahnya.
GAMMA menegaskan akan terus mengawal proses ini hingga ada kejelasan dan transparansi dari pihak terkait. Mereka juga membuka kemungkinan untuk melibatkan aparat pengawas internal pemerintah maupun aparat penegak hukum apabila ditemukan indikasi pelanggaran serius dalam pelaksanaan program tersebut.
Bagi GAMMA, kualitas RJIT bukan sekadar soal beton dan saluran air, tetapi soal masa depan pertanian dan kesejahteraan petani di Kabupaten Lebak. (*Red)