Oleh : Aji Rosyad Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Lebak sekaligus Ketua Umum Forum Wartawan Solid (FWS). Minggu 22 Febuari 2026.
Di setiap lembar berita yang terbit, ada tanggung jawab moral yang tak terlihat. Jurnalis bekerja bukan hanya dengan pena dan kamera, tetapi dengan nurani. Kami menyusuri fakta, menguji informasi, dan memastikan setiap kalimat yang sampai ke publik telah melalui proses verifikasi yang ketat.
Namun di tengah kerja yang seharusnya dijunjung sebagai bagian dari demokrasi, tidak jarang kami justru dihadapkan pada intervensi, tekanan, bahkan ancaman pembunuhan.
Tulisan ini bukan untuk mengeluh. Ini adalah pesan nurani.
Kepada masyarakat, pahamilah bahwa pers bekerja untuk Anda. Setiap kritik terhadap kebijakan, setiap sorotan terhadap dugaan penyimpangan, bukanlah upaya menjatuhkan pribadi atau lembaga. Itu adalah bagian dari kontrol sosial agar kekuasaan tetap berada di rel yang benar. Tanpa pers yang berani, suara rakyat mudah tenggelam.
Kepada para pejabat, ingatlah bahwa jabatan adalah amanah, bukan tameng anti kritik. Ketika jurnalis datang dengan pertanyaan, itu bukan bentuk permusuhan. Itu adalah bagian dari transparansi. Jika ada pemberitaan yang dirasa kurang tepat, tersedia ruang hak jawab dan hak koreksi. Dialog jauh lebih bermartabat daripada intimidasi.
Ancaman terhadap jurnalis sejatinya adalah ancaman terhadap keterbukaan. Dan ketika keterbukaan mulai ditakuti, di situlah demokrasi perlahan kehilangan maknanya.
Kami menyadari, profesi ini juga menuntut integritas tinggi. Jurnalis wajib patuh pada kode etik, bekerja profesional, dan menjunjung asas keberimbangan. Kritik harus berbasis data, bukan prasangka. Sorotan harus bersandar pada fakta, bukan opini kosong.
Tetapi ketika jurnalis telah menjalankan tugasnya dengan benar, maka ia berhak mendapatkan perlindungan, bukan tekanan.
Saya berdiri bersama rekan-rekan di JMSI Lebak dan FWS, menyaksikan sendiri bagaimana wartawan bekerja dalam senyap, kadang tanpa pengakuan, kadang dengan risiko yang tak kecil. Mereka tetap turun ke lapangan, tetap menulis, tetap bertanya, meski tahu konsekuensinya bisa berat.
Karena pada akhirnya, yang kami jaga bukan sekadar berita. Yang kami jaga adalah hak publik untuk tahu.
Mari kita rawat ruang demokrasi ini bersama. Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang jujur.
Pejabat berhak menyampaikan klarifikasi secara terbuka. Dan jurnalis berhak bekerja tanpa rasa takut.
Jika nurani masih menjadi kompas kita, maka tidak ada alasan untuk membungkam kebenaran.
Sebab pers yang bebas dan bertanggung jawab bukan ancaman bagi negara—melainkan penjaga agar negeri ini tetap berjalan di atas cahaya, bukan dalam bayang-bayang ketakutan.
Oleh: Aji Rosyad, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Lebak, sekaligus Ketua Forum Wartawan Solid (FWS)