Beranda » Masih Relevankah Kompetisi Akademik di Era Digital Saat ini? Pelajaran dari Kegiatan Kompetisi Akademik dan Lomba Sains Inovatif untuk Mahasiswa (KALSIUM) 2025

Masih Relevankah Kompetisi Akademik di Era Digital Saat ini? Pelajaran dari Kegiatan Kompetisi Akademik dan Lomba Sains Inovatif untuk Mahasiswa (KALSIUM) 2025

by Editor Utama
0 comment

Oleh: Shabrina Putri Diva

Prodi Kimia Universitas Pamulang Kampus Kota Serang

JURNALKLIK.COM – Di era digital saat ini, jawaban dari beberapa pertanyaan akademik bisa ditemukan dengan mudah. Banyak website atau aplikasi hingga Artificial Intelligence (AI) yang dapat diakses dengan mudah oleh mahasiswa. Pada era seperti ini, muncul beberapa pertanyaan yang kerap diajukan: masih relevankah kompetisi akademik, khususnya lomba cerdas cermat, di tengah akses informasi akademik pembelajaran yang sangat mudah, cepat dan luas?

Pertanyaan tersebut sangat wajar hadir ditengah-tengah era digital. Kompetisi akademik sering dipersepsikan sebagai ajang adu cepat menjawab sebuah pertanyaan yang jawabannya sebenarnya dapat dicari di internet dengan mudah. Namun, pengalaman yang dihadirkan dari kompetisi akademik khususnya lomba cerdas cermat pada Kompetisi Akademik dan Lomba Sains Inovatif untuk Mahasiswa (KALSIUM) 2025 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Kimia Universitas Pamulang Kampus Serang memberikan dan menunjukkan bahwa kompetisi akademik justru memiliki peran penting di era digital saat ini, asalkan diposisikan dengan tepat.

Dalam lomba cerdas cermat KALSIUM 2025, peserta tidak diberi kesempatan untuk bergantung pada pencarian secara instan melalui website ataupun AI. Situasi seperti ini menempatkan mahasiswa pada situasi yang mengharuskan mereka paham akan konsep dasarnya secara utuh. Ketika akses digital dibatasi, yang diuji bukan hanya seberapa cepat mereka menemukan jawabannya saja, melainkan seberapa dalam mereka memahami dan menguasai materi sains yang telah dipelajari selama diperkuliahan. Di era digital saat ini membawa tantangan yang baru bagi dunia pendidikan, yaitu kecenderungan belajar secara instan. Mahasiswa sering kali terbiasa memperoleh jawaban tanpa melalui proses berpikir yang mendalam terhadap soal serta jawaban yang didapatkannya. Akibatnya, pemahaman secara konseptual menjadi dangkal, dalam konteks ini kompetisi akademik seperti cerdas cermat berfungsi sebagai wadah untuk mengembalikan esensi dari makna belajar yaitu mengerti dan memahami, bukan sekadar mengetahui saja.

Lebih dari itu, kompetisi akademik seperti cerdas cermat juga melatih kemampuan berpikir cepat dan mengambil keputusan di bawah tekanan waktu yang diberikan. Pada lomba cerdas cermat, waktu menjadi faktor krusial. Mahasiswa harus menilai informasi, memilah kemungkinan jawaban, dan menentukan pilihan dalam waktu yang sangat singkat. Kemampuan ini sangat relevan dengan tantangan di dunia nyata, di mana sebuah keputusan sering kali harus diambil tanpa adanya kesempatan untuk mencari referensi tambahan. KALSIUM 2025 juga menunjukkan bahwa kompetisi akademik dapat menjadi sarana untuk menguji dan menilai kesiapan mahasiswa menghadapi era digital, bukan menolaknya. Teknologi memang memudahkan seluruh akses informasi pembelajaran, tetapi kompetisi akademik mengajarkan bahwa teknologi tidak selalu tersedia dalam setiap situasi. Dengan demikian, mahasiswa didorong untuk membangun fondasi pengetahuan yang kuat agar mampu berpikir mandiri kapan dan dimana pun diperlukan.

Relevansi kompetisi akademik tidak datang secara otomatis, rancangan kompetisi memegang peran kuncinya. Namun, kompetisi hanya menekankan pada hafalan fakta, maka kritik terhadap ketertinggalannya di era digital menjadi beralasan. Sebaliknya, jika soal dirancang untuk menguji pemahaman konsep, penalaran ilmiah, dan keterkaitan antar materi dengan kehidupan sehari-hari, maka kompetisi akademik justru menjadi pelengkap penting bagi pembelajaran berbasis teknologi pada era digital saat ini. Dalam konteks pendidikan tinggi, keberadaan kompetisi akademik seperti lomba cerdas cermat pada KALSIUM 2025 perlu dipahami sebagai bagian dari pembelajaran. KALSIUM 2025 bukan pesaing dari teknologi digital era saat ini, melainkan penyeimbang dan pelengkap. Ketika mahasiswa terbiasa bergantung pada teknologi, kompetisi akademik menjadi wadah untuk menguji sejauh mana mereka mampu berdiri di atas pemahamannya sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang relevansi kompetisi akademik di era digital seharusnya berubah. Bukan lagi menjadi pertanyaan “perlukah kompetisi akademik di era digital saat ini?”, melainkan menjadi pertanyaan “bagaimana kompetisi akademik di era digital dirancang agar tetap memiliki makna?”. KALSIUM 2025 memberi contoh bahwa dengan pendekatan yang tepat, lomba cerdas cermat tidak hanya relevan, tetapi juga semakin penting di tengah era digitalisasi pendidikan.

Diskusi tentang hal ini layak untuk terus dibuka secara umum. Di tengah kemajuan teknologi yang tak terelakkan, dunia pendidikan perlu menimbang ulang peran kompetisi akademik sebagai sarana pembelajaran. Apakah kita akan meninggalkannya sebagai era lama atau justru mengembangkannya sebagai wadah yang membentuk kemampuan berpikir secara mandiri bagi mahasiswa di era digital saat ini?

You may also like

Kantor Redaksi : Kampung Babakan Kalapa, Desa Aweh, Kec. Kalanganyar, Kabupaten Lebak Banten

Email : Jurnalklik@gmail.com No Handphone : 085216233073/087794000978

Pilihan Editor

Berita Terkini

© 2025 – JurnalKlik.com