Ilustrasi Internet
Warga Desa Warunggunung, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mengeluhkan buruknya pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Lebak.
Suplai air PDAM ke rumah warga tidak mengalir selama hampir satu bulan. Lebih parahnya, tanpa kejelasan dan pemberitahuan resmi dari pihak PDAM kenapa alasan air tersebut tidak mengalir.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh sejumlah warga yang terdampak, khususnya pelanggan PDAM yang berada di RT 04 dan RT 05 RW 02 Desa Warunggunung, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Krisis air bersih itu hingga kini masih dirasakan oleh pelanggan, hingga mengakibatkan aktivitas serta kebutuhan dasar masyarakat terhambat.
Sutek, salah satu warga Warunggunung sekaligus konsumen PDAM mengaku sangat dirugikan, karena sudah lama air tidak mengalir.
Menurutnya PDAM Tirta Multatuli Kabupaten Lebak telah lalai menjalankan tanggung jawabnya sebagai penyedia layanan publik, terlebih, air adalah kebutuhan pokok manusia.
“Air PDAM di jalur Warunggunung kalau dikucurkan tidak mau keluar. Parahnya, itu sudah hampir satu bulan. Lebih parah lagi, tidak ada kabar atau penjelasan apapun dari pihak PDAM, dan bahkan tidak ada perbaikan,” ungkap Sutek kepada wartawan melalui pesan WhatsApp, Rabu 31 Desember 2025.
Menurutnya, situasi ini sangat tidak adil bagi pelanggan. Konyolnya, meskipun air tidak mengalir kewajiban pembayaran tagihan tetap ditagih kepada konsumen setiap bulan.
“Setiap bulan kami tetap harus bayar, tapi airnya tidak mengalir. Ini kan tidak masuk akal, bahkan ini dzolim. Mana tanggung jawab pihak PDAM. Jangan mau dibayarnya saja, tapi airnya tidak mengalir,” tegasnya.
Sutek juga menyesalkan sikap PDAM yang dinilai tidak memiliki empati terhadap kondisi masyarakat saat ini kesulitan air bersih.
“Kalau memang ada kerusakan atau gangguan, seharusnya ada pemberitahuan kepada konsumen, jangan diam saja dan harus segera diperbaiki. Mereka kan tau, air itu adalah kebutuhan pokok manusia. Ini sudah hampir satu bulan air tidak mengalir, tidak ada kejelasan tidak ada perbaikan,”ujarnya.
Ia juga mengaku telah berupaya menyampaikan keluhan masyarakat/ pelanggan secara resmi kepada pihak PDAM. Salah satunya dengan menghubungi pak Fredi Ferdiansah Kepala Bagian Perawatan PDAM Lebak, melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp.
Dalam balasan pesan tersebut, Fredi Ferdiansah menyatakan bahwa keluhan warga sudah dilaporkan ke Kepala Cabang. Namun, jawabannya terkesan malah saling lempar tanggung jawab.
“Sudah saya laporkan ke kepala cabang. Jawaban kepala cabang menyuruh lapor ke bagian perawatan, tapi sampai sekarang tidak ada tanggapan dari kepala bagian. Jawaban pak Fredi justru seolah saling lempar tanggung jawab,”tegasnya.
Kondisi ini memperkuat dugaan buruknya koordinasi dan lemahnya pelayanan pihak PDAM terhadap pelanggannya.
Warga menilai PDAM kembali telah membuat kecewa masyarakat dan dinilI telah gagal dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat. Padahal, beberapa bulan yang lalu, pihak Kejaksaan telah menetapkan beberapa tersangka kasus di PDAM.
“Saya minta agar PDAM segera cari solusi supaya air segera mengalir, karena tentu kami sangat dirugikan. Masa tagihan terus berjalan tapi airnya tidak ada, apakah sikap ini masuk kata gori dzolim kepada masyarakat,” ujar Sutek.
Sutek meminta agar Bupati Lebak melakukan evaluasi dan segera mengintruksikan pihak PDAM agar memperbaiki saluran air di Desa Warunggunung.
“Kami minta dengan sangat kepada pak Bupati Lebak pak Hasbi Jayabaya agar tegas untuk memberikan intruksi melakukan perbaikan agar air segera mengalir kembali. Karena, kami masyarakat yang ekonominya hanya pas pasan sangat butuh air bersih, terlebih itu adalah hak kami sebagai pelanggan menerima air bersih. Jika suara kami masih saja tak didengar, kami mungkin akan kordinasi untuk melakukan aksi turun kejalan,”tandasnya.
Sementara itu, Fredi Ferdiansyah bagian Perawatan Elktrikal Mekanikal di PDAM Tirta Multatuli mengaku sudah memberikan informasi kepada Pimpinannya terkait kondisi Pompa yang kapasitasnya sudah kecil, namun hingga saat ini, kata ia, belum ada tindaklanjut dari Pimpinan.
“Maaf atas gangguan pelayanan kewilayah rumbut. Karena pompa yang saat ini oprasi kapasitas kecil, jadi maaf tidak maksimal. Karena pompa pendorong yang drari Aqoba yang lama sudah rusak. Saya sudah berupaya menyampaikan kepada Pimpinan, namun belum ada jawaban tindaklanjut,”katanya. (*Aji/FWS/ Red)