Peristiwa tragis tersebut terjadi saat hujan deras mengguyur wilayah setempat. Kedua korban diketahui merupakan warga Kampung Pasir Makam, Desa Mekarsari. Mereka masing-masing berusia sekitar 8 tahun dan masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar.
Diduga, kondisi galian proyek yang cukup dalam serta derasnya arus air saat hujan menjadi penyebab korban tidak dapat menyelamatkan diri.
Ketua Umum Koordinator Kumala, Rohimin, mengecam keras kejadian tersebut. Ia menilai adanya dugaan kelalaian dalam penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada proyek yang berada di bawah naungan BBWSC Banten.
“Peristiwa ini menjadi bukti bahwa aspek keselamatan belum diterapkan secara maksimal. Seharusnya setiap proyek memiliki standar K3 yang ketat untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan,” ujar Rohimin dalam pres releasenya, Rabu 15 April 2026.
Ia juga meminta pihak BBWSC Banten segera memberikan klarifikasi kepada masyarakat, khususnya kepada keluarga korban.
“Jika dalam waktu dekat tidak ada penjelasan resmi, kami akan melayangkan surat aksi sebagai bentuk protes,” tambahnya.
Saat ini, suasana duka menyelimuti keluarga korban dan warga sekitar. Kedua jenazah telah disemayamkan di rumah duka dan mendapat belasungkawa dari masyarakat setempat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak media masih berupaya mengonfirmasi pihak-pihak terkait, khususnya kepada penanggung jawab sistem pengamanan di lokasi proyek tersebut.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius terkait pentingnya pengawasan dan pengamanan di area proyek, terutama yang berpotensi membahayakan warga, khususnya anak-anak.
(*/Red)