Lebak — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Insan Cita Cabang Lebak menyoroti tajam dinamika politik yang terjadi di Kabupaten Lebak. Situasi daerah dinilai berada dalam kondisi “siaga” akibat konflik yang tak kunjung usai di antara para pemimpin daerah.
Momentum Halal Bihalal pada Senin 30 Maret di Pendopo Pemkab Lebak, yang semestinya menjadi ruang mempererat silaturahmi, saling memaafkan, serta memperkuat soliditas antar pemangku kebijakan, justru ternodai oleh ketegangan antara Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, dan Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah.
Dalam forum tersebut, Bupati Lebak diduga melontarkan pernyataan yang mengarah pada penghinaan mengarah ke pribadi Wakil Bupati di ruang publik terbuka.
Pernyataan yang menyebut latar belakang pribadi Wakil Bupati dinilai tidak etis untuk disampaikan dalam forum resmi pemerintahan, terlebih dalam suasana yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan keharmonisan.
HMI menilai, pernyataan tersebut tidak mencerminkan sikap kepemimpinan yang bijak dan berintegritas. Alih-alih menghadirkan gagasan konstruktif untuk kemajuan daerah, pidato tersebut justru memicu polemik serta memperkeruh suasana politik di Kabupaten Lebak.
Kepala Bidang PTKP HMI Insan Cita Cabang Lebak, Egi Maulana, menegaskan bahwa seorang pemimpin sejatinya harus mampu menjadi teladan serta membangun sinergi dengan seluruh perangkat daerah.
“Pemimpin adalah representasi citra dan edukasi bagi bawahannya. Tanpa kolaborasi yang baik, mustahil program-program pembangunan dapat terealisasi secara optimal. Egoisme dan sikap yang tidak mencerminkan kepemimpinan harus segera dievaluasi demi terciptanya keharmonisan dalam tata kelola pemerintahan,” ujarnya
Ia juga menambahkan bahwa jika sikap tersebut terus dipertahankan, maka akan mencederai prinsip-prinsip e-government yang mengedepankan transparansi, akuntabilitas, dan kolaborasi.
Sementara itu, Ketua Umum HMI Komisariat Insan Cita, Naoval Ardan, menilai bahwa kondisi Kabupaten Lebak saat ini tengah dihadapkan pada berbagai persoalan krusial yang membutuhkan perhatian serius dari para pemimpin daerah, bukan justru mempertontonkan konflik di ruang publik.
“Lebak masih dihadapkan pada banyak persoalan mendasar yang harus segera dibenahi. Sangat disayangkan ketika seorang pemimpin justru menyampaikan hal yang tidak substansial dan tidak layak dalam forum resmi. Ini menunjukkan adanya degradasi etika dan idealisme kepemimpinan,” tegasnya.
HMI Komisariat Insan Cita Cabang Lebak secara tegas mengecam segala bentuk pernyataan yang bersifat merendahkan atau mencemooh pihak lain, khususnya yang disampaikan oleh pejabat publik. Mereka mendesak agar para pemimpin daerah kembali fokus pada penyelesaian persoalan rakyat serta menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Lebih lanjut, HMI menekankan bahwa sosok pemimpin yang ideal harus meneladani nilai-nilai kepemimpinan dalam ajaran Islam, yakni shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas) sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Dengan kondisi yang terjadi saat ini, HMI menilai bahwa kepemimpinan di Kabupaten Lebak tengah mengalami kemunduran serius, baik dari segi etika maupun kualitas kepemimpinan, sehingga perlu adanya evaluasi menyeluruh demi mengembalikan kepercayaan publik.
“Kami bersikeras mengecam agar pemimpin daerah tidak untuk mencemooh kan orang lain, cukup kami yang mengkritisi kalian bekerjalah dengan baik, masih banyak persoalan di Lebak yang belum terselesaikan,”tegasnya.
Sosok pemimpin yang religius tidak lah jauh dari sosok sang pemimpin penyebar agama Islam semua pemimpin harus mempunyai karakteristik sidik, amanah, tabligh, Fatonah, seperti yang Rosulullah Saw terapkan.
“Maka bupati kali ini kami nilai tidak pantas untuk di sebut pemimpin, tidak layak untuk di jadikan Sri tauladan pemuda masa kini, kini terlihat sudah kebobrokan dari pemimpin daerah Lebak,”tandas Noval.
(*/Red)