Proyek pembangunan irigasi Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) 2025 di Desa Lebak Tipar,
JURNALKLiK.COM – Proyek pembangunan irigasi Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) 2025 di Desa Lebak Tipar, Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, menjadi temuan sejumlah awak media.
Pantauan di lapangan, awaknmedia menemukan dugaan ketidaksesuaian mulai dalam penggunaan penggunaan material, ketidaksesuaian upah pekerja, hingga tidak digunakannya Alat Pelindung Diri (APD) oleh para pekerja di lapangan.
Berdasarkan hasil pantauan tim media, proyek dengan nilai anggaran Rp195 juta yang bersumber dari APBN tersebut diduga tidak sepenuhnya sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan petunjuk teknis (juknis).
Diantaranya, pondasi irigasi sebagian menggunakan batu karang/kapur yang diambil dari sekitar lokasi proyek atau sungai. Kedalaman pondasi diduga tidak seragam, karena temuan media batu yang dipasang diduga tumpang tindih dengan bangunan sebelumnya. Selain itu, serta upah pekerja yang disebut berbeda dari ketentuan dalam RAB.
Selain itu, meski dalam papan informasi proyek tertulis wajib menggunakan APD, faktanya para pekerja terlihat tidak menggunakan helm, rompi, ataupun sepatu boot.

Menanggapi temuan media, Kepala Desa Lebak Tipar, Didi Dulyani, saat dikonfirmasi oleh tim media Kabarlebak.News.com memberikan penjelasan.
- Kualitas Material
Didi mengakui sebagian material berupa batu memang dibeli dari mobilan (pihak luar), sementara sebagian lainnya diperoleh dari sungai (wahangan). Namun ia menegaskan tidak ada yang gratis, seluruhnya tetap dibeli. “Pasir dari wahangan itu malah lebih bagus kualitasnya, karena tercuci secara alami,”kata Kepala Desa Didi Mulyani, Sabtu 13 September 2025.
Kemudian, 2. Upah Pekerja Menanggapi perbedaan upah pekerja antara temuan lapangan dengan RAB, Didi menerangkan kelompok tetap berupaya memperhatikan kesejahteraan pekerja dengan tambahan fasilitas.
“Kepala tukang digaji Rp120 ribu, tukang Rp100 ribu, dan kuli Rp 80 ribu. Selain itu kelompok juga setiap hari menyediakan rokok, kopi, dan makanan ringan untuk para pekerja,”katanya.
- APD (Alat Pelindung Diri)
Terkait dugaan tidak adanya APD, Didi menegaskan bahwa pihak kelompok sudah melakukan pengadaan.
“APD sudah dibeli, termasuk helm dan sepatu boot,”kata Kepala Desa.
Meski sudah ada penjelasan dari pihak desa, sorotan terkait kualitas pekerjaan, transparansi anggaran, serta kedisiplinan penggunaan APD masih menjadi perhatian publik. Proyek P3-TGAI 2025 Desa Lebak Tipar diharapkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengurangi standar kualitas dan keselamatan kerja.
Selain itu, pekerjaan P3-TGAI di Desa Lebak Tipar kini mulai menjadi sorotan serius Koalisi Aktivis Bersatu, yakni RPM dan PKN. Menurutnya, pihaknya sebelumnya melakukan kajian lebih mendalam terlebih dahulu.
“Kami akan kumpulkan bukti dan melakukan kajian terlebih dahulu, nanti baru kami bisa menyimpulkan tindaklanjutnya seperti apa,”tandasnya. (*/Riki/Red)